Feeds:
Posts
Comments

Cinta

Ilalang tumbuh tinggi

Dipupuk hujan dan sinar matahari

Waktu

Waktu berlalu bersama lunturnya malam oleh pagi, arak awan saat dipanasi matahari, datangnya senja seiring perginya pelangi. Waktu akan kembali datang saat kaudapati cahaya matahari di bawah pintu, rinai hujan yang menerpa bumi bertubi-tubi, uap kopi yang turut kausesap bersama aroma pandan dalam sepotong kue bolu, detak jam yang kaudengar dengan telinga hati. Waktu tak pernah hilang. Ia hanya datang dan pergi sebagaimana mestinya.

Gerimis

Gerimis datang diam-diam, menyembunyikan wujudnya dalam malam. Semata karena tidak ingin mengusik tidur semesta. Ia rahasiakan rinainya, namun tetap ia tak mampu meredam suaranya. Hingga terdengar tetesnya di tanah dan dedaunan. Semua tahu ia datang tanpa harus mereka sibak tirai dan mengintainya dari balik jendela. Dan hujan mengalirkan rindunya, menyamarkannya dalam debu yang ia basuh dalam gelap. Menyimpannya di dalam tanah untuk kemudian tumbuh menjadi bunga.

Warna

Saya baru sadar, warna nggak cuma hitam, putih, dan mejikuhibiniu beserta turunannya yang lebih gelap atau terang. Banyak warna lain yang nama-namanya bikin saya melongo.

Salah satunya… milo.

Setahu saya, milo adalah merek minuman cokelat berenergi. Namanya juga minuman cokelat, sudah pasti warnanya cokelat.

Untuk kain, ternyata menyebutkan warna “cokelat” saja tidak cukup. Termasuk “cokelat muda” atau “cokelat tua”. Kudu lebih spesifik lagi. Mungkin karena adanya campuran warna lain, sehingga muncul warna baru. Atau bisa saja warna baru diciptakan karena terinspirasi warna sebuah benda.

Contohnya warna “milo” itu tadi. Bisa jadi penamaan itu dilakukan karena si pembuat warna menciptakan warna baru yang belum ada namanya. Kebetulan warna baru itu sama dengan warna minuman Milo. Atau bisa juga si pencipta warna suka banget sama warna Milo yang diseduh, terus dia menciptakan warna tersebut.

Selain milo, warna-warna lain yang baru saya dengar antara lain tiramisu, latte, coksu alias cokelat susu (bener nggak, sih?), mustard, taro, honey, olive.

Kadang kita menggunakan benda, terutama makanan atau minuman, untuk menjelaskan warna secara spesifik, misalnya pink Fanta. Waktu saya kecil dulu, kebetulan saya tinggal di sebuah desa di tatar Sunda, orang mengatakan “koneng gedang asak” (kuning pepaya matang) untuk menyebut jingga.

Ke depannya mungkin akan ada lebih banyak lagi warna baru. Inspirasi namanya juga mungkin bakal diambil dari mana-mana, nggak cuma makanan atau minuman.

Tapi, warna tidak hanya bergantung pada benda. Warna juga bergantung pada mata kita dan layar ponsel. Tingkat kecerahan ponsel kita sama ponsel orang lain bisa aja beda. Begitu juga dengan mata kita. Setiap orang punya pandangan yang berbeda.

Hidup itu punya banyak warna. Jadi, jangan hanya memandang satu warna saja.

Pecundang

Angkasa terlalu luas untuk kuarungi
Bulan terlampau tinggi untuk kuraih
Kubiarkan bintang jatuh melesat di atas bukit
Tanpa kutahu di mana ia akan berhenti
Bagiku, dunia selalu menjadi misteri

Ketika aku menapaki jalan ini
Kurasakan tanah begitu keras menyentuh telapak kaki
Tak ada yang mampu menjamin hidup akan lebih baik
Sejak aku tahu banyak persimpangan yang harus kulalui

Aku seperti seekor kucing kelaparan yang mengais-ngais tempat sampah
Mencari ikan sisa makan malam
Tapi ia tidak menemukan apa-apa
Lidahnya terasa hampa
Matanya menatap langit dengan putus asa

Lalu angin meniupkan debu
Kubersihkan bajuku tapi debu itu sepertinya enggan enyah
Mereka melekat di kain seperti menjadi bagian dari warnanya

Seekor kupu-kupu terbang di hadapanku
Ia ingin terbang tinggi dan jauh tetapi angin menghalanginya
Kupu-kupu itu terlalu percaya diri
Dipikirnya sayapnya yang tipis itu dapat menaklukkan dunia

Aku jatuh saat tengah berjalan
Koma sesaat kemudian terjaga
Matahari masih terbit dan terbenam
Jantungku masih mendetakkan jiwa

Aku harus terus berjalan