Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Track’ Category

Di Kenjeran

Bulan Januari kemarin saya berkesempatan ke Surabaya. Jatah satu hari di sana, saya ingin mengenal kota tersebut. Diantar Brahm pake motor, kami keliling kota. Hawa Surabaya katanya panas. Tapi saat ada di sana, saya tidak kegerahan. Mungkin karena saya ada di luar ruangan, pake motor pula. Jadi kena angin terus.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Taman Bungkul. Suasananya tidak terlalu ramai. Mungkin karena itu hari Sabtu sehingga tidak banyak pengunjung karena ada beberapa orang yang bekerja di hari Sabtu. Saya dan Brahm pun tidak kesulitan mencari tempat duduk. Kami ngobrol-ngobrol sambil menunggu Ihsan.

Ihsan datang. Tidak lama kemudian kami pindah ke bagian belakang taman. Ada tempat makan di situ. Saya tidak hafal makanan khas Surabaya apa saja selain rujak cingur (itu pun tidak tahu bentuk dan rasanya seperti apa). Jadi saya tidak memesan makanan, selain juga karena Brahm dan Ihsan tidak pesan makanan. Cuma segelas bubur kacang ijo yang jadi pengganjal perut.

(more…)

Read Full Post »

Bengong di Cartil

Bisa dibilang, selama seminggu kemarin saya sibuk sekali. Capek. Dan berhubung orang-orang rumah kena flu, saya pun ketularan. Bersin-bersin, badan pegal-pegal. Untungnya tidak begitu parah. Minum obat, keadaan membaik.

Puncak kesibukan terjadi pada hari Sabtu. Talkshow “Satin Merah” di dua tempat, radio MGT dan Gramedia Istana Plaza. Berlangsung dari pukul sembilan sampai 12 lewat. Setelah makan siang, saya dan Brahm berangkat ke Cartil atau Caringin Tilu. Diantar mas-mas Transmedia sampai Padasuka.

Dari muka jalan Padasuka, saya dan Brahm naik ojek. Awalnya tukang ojeknya menawarkan satu paket atau satu motor berdua sebesar 25.000. Kami tawar, sampai deal 15.000, kalau tidak salah. Sekali jalan. Satu orang satu ojek.

Dan berangkatlah kami ke Cartil, melewati Saung Angklung Ujo, terus menanjak. Cartil ternyata jauh bukan main. Pantas saja kalau tukang ojeknya menawarkan harga yang begitu mahal. Seperti waktu ke Tahura saja. Dari Gua Belanda sampai Curug Omas sangat jauh. Cartil pun seperti itu.

Setelah menanjak entah berapa kali, akhirnya kami tiba di Cartil. Dan apa yang kami dapatkan?

(more…)

Read Full Post »

Menjelajah Unwim

Taman Hutan Raya Juanda – Dago

 

Ketika menjelajah Tahura bersama Brahm minggu lalu, saya mendadak ingat kebandelan saya waktu kuliah. Pada suatu hari Jumat sehabis UTS, Retno bercerita kalau kemarinnya dia habis main ke Unwim (Universitas Winaya Mukti) bersama pacarnya, yang kebetulan anak Unwim. Ceritanya seru; saya jadi tertarik main ke sana. Karena hari masih pagi, sekitar pukul 10an, dan jarak dari Unpad ke Unwim sangat dekat, kami pun sepakat untuk merambah tempat tersebut saat itu juga.

Kami berdua pergi lewat pangdam. Masuk Unwimnya lewat gerbang kecil, kalau tidak salah. Lalu kami menyusuri jalan setapak dengan pemandangan sebelah kiri yakni bus-bus Damri dan kendaraan lain yang lalu lalang menuju Unpad, serta pemandangan sebelah kanan yaitu pohon-pohon yang tumbuh saling berdekatan sehingga mirip hutan.

(more…)

Read Full Post »

Karena kemarin kita tidak jadi ke De’ Ranch, hari ini kita memutuskan untuk balik lagi ke sana. Dari segi waktu, sebetulnya ini agak mengkhawatirkan. Pasalnya Brahm harus sudah ada di stasiun pukul 16.30. Keretanya akan berangkat ke Surabaya pukul lima sore.

Saya tidak menginap di rumah tante malam sebelumnya. Melainkan pulang ke Cicalengka. Jadi pagi-pagi saya berangkat ke Bandung dan janjian sama Brahm di Alun-alun. Kita mau ke Pasar Baru dulu buat beli oleh-oleh. Brahm kebingungan mau beli apa. Saya menyarankan sale pisang, oncom atau tempe goreng. Brahm setuju. Dia beli sale pisang banyak banget buat oleh-oleh di Surabaya. Juga oncom goreng dan batagor kering. “Ini gimana bawanya ya?” Brahm takjub. Dia sendiri ke Bandung bawa ransel dan koper. Ditambah dua kresek snack khas Bandung. Belum lagi pisang bolen Kartika Sari berdus-dus.

Pukul 11, Brahm checkout dari hotel. Habis itu kita ke Lembang bawa-bawa ransel gendut, koper dan kresek Kartika Sari. Ribet banget ya? Kayak yang mudik. Dan semua itu kita bawa ke De’ Ranch!

(more…)

Read Full Post »

Janjian di penginapan pukul tujuh. Begitu sampai… “Aku mandi dulu ya. Dingin,” kata Brahm melalui SMS. Yyyaaaah… Begitulah orang yang tidak terbiasa dengan hawa Bandung. Kedinginan. Padahal Bandung Senin pagi kemarin tidak dingin.

Pukul setengah delapan kita baru berangkat. Ke stasiun hall dulu karena Brahm harus beli tiket pulang ke Surabaya. Dari stasiun hall kita naik angkot menuju Lembang. Angkot yang ini ukurannya lebih gede dari angkot biasa.

Perjalanan ke Lembang dari Bandung lumayan jauh. Sama seperti ke Ciwidey, ke Lembang juga naik-naik ke puncak gunung karena jalannya menanjak. Bedanya, jalan menuju Lembang lebih ramai dari Ciwidey. Cuman, di depan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) angkotnya ngetem dulu. Ini kan daerah kampus, banyak mahasiswa, jadi ya agak macet dan angkotnya suka ngetem.

Oke. Ke mana tujuan kita sebenarnya?

Bukan ke Tangkuban Perahu. Tapi ke De’ Ranch, tempat wisata berkuda di daerah Maribaya. Konon, De’ Ranch ini tidak jauh dari Pasar Lembang. Saya tidak tahu Pasar Lembang itu di sebelah mana. Sudah lama tidak ke daerah ini. Terakhir waktu mabim lapangan ketika kuliah. Itu pun naik tronton, jadi saya tidak melihat bagaimana keadaan kota Lembang.

Tahu-tahu angkot masuk pasar. “Neng, mau ke mana?” tanya supir. “Maribaya,” jawab saya. “Sebentar ya, angkotnya keluar pasar dulu. Nanti naik angkot kuning.”

(more…)

Read Full Post »

 

Akhirnya saya bisa ketemuan face to face sama Brahm, teman saya dari Surabaya yang saya kenal melalui Warung Fiksi. Brahm ke Bandung dalam rangka melepaskan-diri-sejenak-dari-kebisingan-Surabaya. Rencana liburan kita siapkan secara matang selama sekitar dua minggu. Brahm menolak wisata kota. Dia maunya pelesir ke luar Bandung.

Hari pertama sekaligus hari kedatangan Brahm ke Bandung, kita ke Kawah Putih. Sebelumnya, setelah sampai stasiun Bandung, Brahm ke rumah dulu, pamit sama keluarga dan menyimpan oleh-oleh berupa snack khas Surabaya dan kaos Sawoong buat saya.

Dari Cicalengka, kita naik elf ke terminal Leuwi Panjang. Bertiga sama teman main saya, Eka. Dari Leuwi Panjang, kita tadinya mau naik elf sampai Ciwidey. Berhubung elfnya tidak ada, kita naik bus. Bayar 6.000. Tapi jangan dikira perjalanan menuju Ciwidey itu enteng. Konon, bus lebih lama dari elf. Sudah begitu, karena kita berangkat siang dari Bandung (sekitar pukul 11), Jalan Terusan Kopo macet. Jadi kita harus bergerah-gerah di dalam bus yang tidak ber-AC.

Pukul satu (atau setengah dua ya?) siang kita tiba di terminal Ciwidey. Begitu turun bus, langsung ada yang menawarkan angkot kuning menuju Kawah Putih. Kita bertiga langsung saja naik. Setelah ngetem beberapa menit, berangkatlah kita ke Kawah Putih. Naik-naik ke puncak gunung karena jalanan menuju ke sana memang menanjak. Sialnya, kita ke sana pas hujan. Tidak lebat, tapi lumayan bikin ngeri. Ciwidey itu kan pegunungan. Hujan, langsung muncul kabut. Jalan jadi samar. Pemandangan di bawah pun benar-benar tidak terlihat.

(more…)

Read Full Post »