Menyusui, sekalipun terlihat enteng dilakukan, ternyata penuh perjuangan. Perjuangan supaya ASI keluar lancar, menjadi orang yang sangat sabar dan bisa terus menyusui selama dua tahun. Apa pun yang terjadi.
ASI sama sekali tidak pernah kurang. Semakin sering disedot, jumlah ASI akan terus bertambah. Ada semacam interaksi antara perut bayi, payudara dan otak ibu. Saat bayi terus membutuhkan ASI, payudara ibu memberitahu otak supaya terus memproduksi ASI. Asalkan kondisi ibu fit lahir batin, ASI pun akan terus diproduksi.
Saya kira tidak menyusui merupakan sebuah pilihan yang keliru. Jadi selama masih bisa menyusui, menyusuilah. Andaipun terjadi beberapa masalah dengan payudara atau ASI, pertimbangkanlan pemberian susu formula. Kalau ASI tidak keluar sementara bayi sudah lahir, jangan panik lantas melakukan tindakan pintas, misalnya dengan memberi bayi madu atau sufor. Tunggulah selama tiga hari, karena selama 3 x 24 jam, bayi memiliki cadangan makanan dalam tubuhnya, sehingga bayi tidak akan kelaparan. Kalau bayi menangis terus, gendong saja dan coba susui dia. Paling tidak, bayi mengisap kolostrum, dan justru ini merupakan bagian terbaik dari ASI.
Menyusui adalah hak seorang ibu untuk menunjukkan kasih sayang pada anaknya. Apalagi zaman sekarang, menyusui merupakan semacam kegiatan prestis. Ibu menyusui pun difasilitasi. Mulai dengan tersedianya minuman khusus ibu menyusui, krim untuk merawat puting, celemek menyusui sehingga menyusui bisa dilakukan di tempat umum. Baju menyusui pun memiliki desain yang beragam, tidak melulu blus atau daster berkancing depan. Selain itu, beberapa tempat umum dan kantor menyediakan pojok laktasi atau tempat memompa ASI.
Tuh, kan, tidak ada lagi alasan untuk tidak menyusui. Apalagi kalau anaknya masih mau menyusu. Satu lagi yang saya sarankan, jika ibu akan melahirkan, sebaiknya cari dokter atau bidan, serta tempat bersalin yang pro ASI. Sehingga ibu termotivasi untuk menyusui si buah hati.
Selamat menyusui
Pada 27 April kemarin, Kiara genap enam bulan. Lulus ASIX dan sudah waktunya diberi MPASI. Hal pertama yang terbersit dalam pikiran saya adalah menu. Menu makan bayi jelas tidak sama dengan menu makan orang dewasa. Sebab sistem pencernaan bayi masih sensitif. Lambung bayi masih sangat kecil (tengok saja ukuran perutnya). Kalau sembarang diberi makan, bisa-bisa berdampak tidak baik terhadap kesehatannya.
Mempersiapkan perlengkapan bayi, apalagi untuk anak pertama, adalah sebuah kegiatan yang berpotensi menimbulkan dilema, lantaran jenis kelamin yang belum pasti, ukuran tubuh bayi yang entah besar atau kecil, terpakai tidaknya sebuah barang, dsb.Tapi, kegiatan ini juga sangat menyenangkan, terutama bagi calon ibu. Karena biasanya kaum perempuan gila belanja, dan mempersiapkan perlengkapan bayi adalah sebuah keharusan.
Saya selalu menolak bicara tentang Kematian. Namanya saja sudah menyeramkan begitu, apalagi kepribadiannya. Namun belakangan ini otak saya sering menyebut-nyebut Kematian. Sebab Kematian berkali-kali mendatangi saya.
Rasanya seperti baru kemarin saya dan suami pergi ke apotek untuk membeli testpack. Pilih-pilih, akhirnya kami membeli testpack yang biasa saja, karena apa pun hasilnya kami akan tetap periksa ke dokter. Lalu subuh-subuh sebelum salat, saya ke kamar mandi dan menampung urin ke dalam wadah plastik kecil. Lantas batang testpack dicelupkan ke dalamnya. Beberapa menit menunggu, tampak dua garis merah. Mula-mula samar kemudian jelas. Spontan saya melonjak girang. Akhirnya saya hamil!
Kiara sayangku manisku cintaku…