Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Day-A-Rie’ Category

Ciput

Pas buka-buka arsip di komputer, nemu tulisan ini. Ini cerita waktu Robin, salah seekor kelinci di rumah, pertama kali dipelihara. Waktu itu namanya Ciput.

Pada suatu sore, ada seekor kelinci di taman samping. Karena dari dulu kepingin banget punya kelinci, aku pun langsung nyamperin kelinci itu. Kelinci itu anteng-anteng aja makan rumput. Waktu mau kufoto, kelinci itu tetep nunduk. Yang tegak cuma telinganya yang panjang. Ceklek! Cuma telinganya yang bisa aku potret.

Waktu matahari tenggelam, kelinci itu pergi. Besok sorenya aku nunggu dia di teras samping. Tapi sore itu mendung dan ujan gerimis. Matahari kehalang awan kelabu. Kelinci itu nggak lagi muncul. Aku sedih, tapi aku yakin kalo suatu hari aku bakal ketemu dia lagi. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Sandal Salamatahari

Sepasang sandal jepit beda warna. Mengingatkan saya pada Sundea. Dea selalu memakai sandal jepit beda warna. Sebelah biru, sebelah kuning.

Sandal semacam itu banyak dijual di Cicalengka, di toko-toko sepatu atau lapak kaki lima. Setiap melewatinya saya hanya bisa menatapnya. Saya ingin memakai sandal beda warna seperti itu. Satu kuning, satu hijau. Cerah dan segar. Tapi, warnanya tidak sinkron. Saya maunya sandal kuning tali hijau dan sandal hijau tali kuning. Yang ada, sandal kuning dan hijau talinya sama-sama kuning. Kuning seperti egois, pikir saya. Ada yang talinya sama-sama putih, tapi saya tidak suka.

Saya batal membeli sandal beda warna. Saya tidak mau membeli sesuatu yang cacat di mata saya. Untuk di luar rumah, saya pakai sandal hijau. Sedangkan untuk di dalam rumah, saya pakai Navy.

Minggu lalu Salamatahari bagi-bagi hadiah berupa tiga pasang sandal jepit beda warna. Bukan kuning dan hijau seperti keinginan saya, melainkan kuning dan biru. Sandal itu tidak akan dibagikan dalam keadaan polos, tetapi digambari. Sebuah hadiah yang spesial dan unik. Saya pun tertarik. Saya mention Salamatahari. Untung-untungan, karena saya yakin pasti banyak yang berminat mendapatkan sandal ini.

(more…)

Read Full Post »

Suatu hari aku pergi ke Jatinangor. Waktu lewat Dangdeur, aku liat sebuah kantong kresek putih yang gemuk di deket pembatas jalan by pass. Kresek itu pasti lagi hamil. Di dalam perutnya ada bayi yang usia kandungannya udah gede.

Kresek itu diam aja di dekat pembatas jalan. Keliatannya dia mau nyebrang, hendak ke pasar Dangdeur. Tapi susah karena kendaraan yang lewat di jalan by pass ngebut-ngebut. Kendaraan-kendaraan itu kayak keburu-buru demi mengejar sesuatu. Karena keburu-buru itu, mereka jadi nggak merhatiin kehadiran kresek hamil yang mau nyebrang jalan itu. Mereka ngelewatin ibu kresek tanpa menoleh sedikit pun, apalagi ngasih kesempatan buat nyebrang.

Ibu kresek itu sendiri pastinya ketakutan. Dia kan dilewatin banyak kendaraan dalam jarak yang deket banget. Bisa aja ada kendaraan yang jalannya slebor dan nabrak kresek itu. Ibu kresek pasti bakal keguguran dan bayinya bakal mati terlindas kendaraan.

(more…)

Read Full Post »

Mengajak Navy Jalan-jalan

Sehari-hari di rumah, saya suka memakai sandal jepit spons Nevada. Yang saya pakai saat ini adalah sandal kedua. Warnanya biru tua atau navy blue. Karena itu saya memberinya nama Navy. Selain sesuai dengan warnanya, juga karena bunyinya berdekatan dengan Nevada.

Sandal jepit spons yang satu ini terkesan ringkih. Mereka tipis dan sepertinya mudah sekali rusak. Belum lagi talinya terbuat dari kain; mama selalu khawatir tali itu akan copot. Karena itu mama menyarankan supaya Navy dipakai di dalam rumah saja.

Saya menuruti saran mama. Tapi dulu saya pernah mengajak Navy jalan-jalan keluar rumah. Navy saya ajak menginjak jalan yang basah dan kering. Juga hamparan pasir dan batu kerikil. Hasilnya, bagian bawah Navy bolong akibat menginjak batu kerikil terlalu dalam. Saya sendiri menyesal membawa Navy keluar rumah sehingga saya harus susah payah melepas kerikil yang menancap di bagian bawah Navy.

(more…)

Read Full Post »

Balada Kaleng Bear Brand

Di dalam bus Putera Setia menuju Ciwidey. Saya duduk di tengah, diapit Eka dan Brahm. Ups! sesuatu menubruk kaki kiri saya. Bukan kaki Brahm, karena dia tidak lantas meminta maaf atau merasa bersalah.

Saya menengok ke bawah. Sebuah kaleng susu Bear Brand. “Ah, orang-orang suka sekali membuang sampah sembarangan,” pikir saya tanpa mengindahkan kaleng itu lebih lanjut.

Ketika bus ngetem, Brahm pindah duduk ke jok depan yang ditinggalkan penumpang yang turun. Saya duduk leluasa dan kaleng itu kembali menabrak kaki saya. “Kenapa sih kamu menggelinding terus?” tanya saya pada kaleng Bear Brand dengan kesal.

“Kasihanilah aku,” jawab si kaleng. “Aku tak lagi bermuatan susu. Susu di dalamku habis diminum. Aku kosong sekarang. Tidak ada lagi yang kukaleng. Kamu mau dikaleng sama aku? Namaku kan kaleng. Dalam bahasa Sunda, kaleng itu artinya gandeng. Dikaleng berarti digandeng.”

“Hah? Digandeng sama kamu? Nggak ah. Kamu kan kotor. Nanti ada kuman penyakit masuk tubuhku,” saya bergidik seraya menendang si kaleng pelan-pelan.

Kaleng Bear Brand tidak berkata apa-apa lagi. Ia menggelinding dengan pasrah.

Beberapa hari kemudian saya demam dan sariawan. Kalau panas dalam seperti ini saya minum susu Bear Brand.

(more…)

Read Full Post »

Tukang Sendal Keliling

Suatu sore aku lewat Bubat. Belum sore-sore banget, tapi jalan udah macet. Lampu merah.

Di dalem mobil, waktu nengok ke sebelah kiri, aku liat di trotoar ada tukang sendal keliling. Dia bawa tas gede banget terbuat dari bahan jins yang udah belel, terus satu tangannya megang beberapa sendal buat laki-laki. Makanya aku tau itu tukang sendal keliling.

Perasaan, aku baru liat ada tukang sendal keliling. Aku biasanya liat tukang sendal atau sepatu di trotoar. Apa aku salah duga ya? Mungkin aja itu tukang sendal yang biasa dagang di trotoar. Karena udah mau sore, dia udahan jualan di trotoar dan sendal-sendal yang belum laku dia tawarin ke para pejalan kaki di sepanjang trotoar Bubat.

Kasian deh tukang sendal beserta para sendalnya. Tukang sendal berjuang keras nyari majikan buat sendal-sendal yang dia dagangkan. Dia mungkin ngider Bandung, pindah dari trotoar satu ke trotoar lain, biar sendal-sendal jualannya ada yang beli dan make. Buat jalan-jalan, lari, ngelindungi telapak kaki biar nggak nginjek jalan yang kotor.

Di antara orang-orang yang lewat di trotoar dengan pikiran, perasaan dan tujuan masing-masing, tukang sendal nyari orang yang berminat sama sendal-sendal dagangannya.

Di antara alas-alas kaki yang lalu lalang nganter majikannya ke tujuan mereka, beberapa sendal justru menanti dipijak.

Psst… Kalo ketemu tukang sendal keliling di jalan, beli aja sendalnya. Lumayan buat lebaran. 😉

Read Full Post »

Si Kembar Item yang Manja

Aku punya temen yang manja banget. Kembar. Warnanya item. Mereka itu suka banget bobo di lemari, diselimutin plastik. Jarang banget keluar, tidur melulu. Kalo pergi, mereka sukanya naik mobil pribadi, nggak suka maen di outdoor, nggak tahan debu dan sinar matahari, maunya ruangan ber-AC atau yang temperaturnya kayak rumah.

Jadi kalo aku harus pake mereka, nggak bisa sembarangan. Misalnya waktu dulu ada panggilan interview kerja. Mereka nggak bisa dipake dari rumah. Harus dibekel dulu, dimasukkin kresek terus disimpen di dalem tas. Nyampe lokasi, baru deh dipake. Begitu interviewnya kelar, mereka dilepas lagi. Sangat merepotkan.

Kalo aku paksain mereka buat dipake jalan… wuah, mereka bakal ngambek. Mereka bakal mencengkeram jari-jari kakiku sampe sakit. Pernah lho aku jalan kaki dari Diponegoro sampe Bagus Rangin pake si kembar. Mereka marah. Bagian belakang kakiku, yang deket tumit, mereka gigit sampe ngelupas.

Sempet nyesel sih udah beli mereka. Abis gimana, aku butuh mereka. Dan waktu lihat mereka dipajang di rak sepatu Nevada di Matahari BIP dua taun lalu, aku langsung jatuh cinta. Mereka itu simpel, tapi manis. Harganya juga cukup buat ukuran finansialku. Buat dipake sesekali pas acara formal, pas bangetlah. Makanya aku nggak mikir panjang. Lihat mereka, dicoba bentar rasanya enakeun, periksa dompet, bungkuuuuusss… Lagian mungkin aja mereka the one and only. Karena setelah itu aku nggak lihat lagi produk sepatu Nevada kayak mereka. Eeeh… nggak taunya mereka sangat manja.

(more…)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »